Title : Lovey Dovey (Cry Cry Season 2)
Main Cast : Cha Seung Won as Cho Seung Won
Casts :
- Park Jiyeon as Han Naeun
- Ryu Hwayoung as Han Jieun
- Lee Qri as Seo Jihyun
- Ham Eunjung as Kim Jiyeon
- Park Sun Young (Hyomin) as Im Jina
- Cho Kyuhyun
Note : this is a new version of Lovey Dovey that I wrote to a Fanfic J
*****
“Baiklah, Ajusshi percaya padamu. Oleh sebab itu, ajusshi akan usahakan agar Naeun tidak perlu disidang dan dibebaskan dari segala hukuman,”
“Tidak perlu, Seung Won ajusshi. Aku akan menjalani masa hukumanku jika aku memang terbukti bersalah! Lagipula aku sudah terlalu merepotkanmu.”
“Oh, Naeun-ssi. Kau sudah paman anggap sebagai anak sendiri. Jika paman bisa usahakan, kau tidak perlu datang ke pengadilan bahkan menjalani hukuman.” Tuan Cho memandang Naeun sambil tersenyum. Batapa beruntungnya Naeun bahwa Ia diasuh oleh seorang paman yang sudah menganggap dirinya seperti anak kandung.
-2 Years Later-
(now playing : T-ara - Lovey Dovey)
Dua orang wanita baru saja memasuki sebuah club di kawasan Daegu. Keduanya sama-sama mengenakan jaket kulit hitam dengan kaos yang berbeda. Satu diantara mereka –yang paling tinggi- berambut pendek agak bergelombang. Sedangkan yang satunya –yang juga berambut pendek- rambutnya agak lurus.
Mereka berdua langsung masuk kelantai dansa dan menari sambil meloncat-loncat. Dalam hal ini, tampaknya yang berambut gelombang lah yang paling bersemangat. Sedangkan yang satunya hanya diam memperhatikan seluruh isi club.
“Ya! Jieun-ssi!! Jangan merengut seperti itu. Ikutlah menari bersama yang lain, oh?”
“Tidak bisakah kita menyingkir, Jiyeon-ssi?” yang dipanggil Jiyeon mendadak diam dan langsung menoleh. Menatap wanita yang dirangkulnya –Jieun- dengan bingung dan heran.
“Ahhhh~ kau ini bagaimana? Diajak bersenang-senang tidak mau?” tanya Jiyeon sewot.
“Arraseo, kita menyingkir dan duduk disana saja,” Jiyeon dan Jieun pun sama-sama menyingkir dan duduk disebuah dofa dipojok ruangan. Diatas meja sudah tersedia beberapa botol soju yang tinggal dinikmati.
Tangan Jiyeon pun langsung menyerbu botol itu. Dituangnya disebuah gelas yang juga sudah disediakan. Ia menoleh pada Jieun sambil menyodorkan gelas itu, tapi langsung disingkirkan oleh Jieun. Jiyeon yang mengerti maksudnya, hanya mengangkat kedua bahu lalu langsung meneguk sojunya dengan cepat.
“Hai, cantik!” seorang laki-laki datang menghampiri mereka. Atau tepatnya menghampiri Jieun.
“Hai, siapa namamu?” tanya laki-laki itu sembari menyentil dagu Jieun.
“Ck!” umpat Jieun menghindar, terlihat jelas bahwa Ia tidak suka diperlakukan seperti itu.
“Hei! Aku hanya bertanya siapa namamu?!”
“Jieun imnida!” jawa Jieun ketus tanpa melihat kearah si laki-laki. Jiyeon yang duduk disamping Jieun tersenyum, sebelum Ia benar-benar bangkit dan menghampiri laki-laki itu.
“Hai, Tuan. Jangan mengganggunya. Bagaimana kalau kau berdansa denganku saja, huh?” tanya Jiyeon kemudian menuntun laki-laki itu untuk berjalan ke lantai dansa dan sama-sama menikmati alunan musik yang dipersembahkan oleh sang DJ.
Jieun’s POV
Aku memperhatikan Jiyeon dari tempat dudukku. Ya, aku tahu pekerjaan Jiyeon. Ia berpura-pura menemani para lelaki bejat itu, dan diam-diam mengambil dompet mereka. Pencuri? Sepertinya kata itu yang pantas untuk menggambarkan pekerjaan Jiyeon, hanya saja Jiyeon jauh lebih berkelas dibandingkan para pencuri lainnya.
Jiyeon masih berdansa dengan laki-laki tadi. Tapi tanpa laki-laki itu sadari, Ia akan kehilangan dompetnya sebentar lagi. Karna dalam hitungan detik, dompet disaku celananya akan berpindah ke kantong jaket Jiyeon.
Cih! Apa Jiyeon tidak pernah sadar bahwa pekerjaannya itu sangat tidak bermoral?
-Keesokan harinya-
Author’s POV
Pagi sudah tiba. Matahari akhirnya muncul dari ufuk timur. Menyinari langit di kota Daeguyang cukup sibuk dipagi hari.
“Jieun-ssi!! Han Jieun!!!” Jiyeon berteriak dan langsung masuk ke rumah Jieun tanpa menunggu ijin dari sang eumpunya.
“Ji-” kata-kata Jiyeon terputus saat melihat sebuah dompet kulit berwarna hitam yang tergeletak diatas meja makan di rumah Jieun.
Didorong rasa penasaran, Jiyeon langsung menghampiri dompet itu dan tanpa ragu membuka isinya. Dijenakinya setiap inch dompet itu sampai Ia menyadari bahwa ada sebuah foto yang tersimpan didalam.
“Kim Jiyeon!!” Suara Jieun membuat Jiyeon tersentak dan melompat ditempatnya.
“Jiyeon-ssi, dangsin mwohaneun geoya?” tanya Jieun sambil cepat-cepat menghampiri Jiyeon yang berdiri tegang didekat meja makan. Lalu cepat-cepat merampas dompetnya.
“Mianhae.. aku hanya ingin melihat-lihat isinya. Aku benar-benar tidak mengambil apa-apa dari dompetmu,” Ucap Jiyeon menyesal. Baru kali ini Jieun melihat wajah Jiyeon seperti itu.
“Ya, sudah. Lain kali jangan lakukan itu lagi!”
“Ne~ oh, iya, wanita itu siapa? Foto yang ada didompetmu?” JLEB! Jieun membelalakan matanya. Tidak pernah terpikir bahwa Jiyeon akan melontarkan pertanyaan itu sebelumnya.
“Diaa… dia… dia sepupuku,” jawab Jieun ragu-ragu tapi berharap kalau Jiyeon akan percaya.
“Ohh.. pantas saja, kalian mirip. Oh, ya, nanti malam kau ikut aku ke Seoul ya? Aku ada janji dengan seorang namja. Kita berangkat ke stasiun satu jam lagi, araseo?” Jieun hanya mengangguk-angguk menuruti permintaan Jiyeon. Lagipula, Jieun tidak tega menolak tawaran yeoja itu, karna Jiyeon sudah seperti saudaranya.
Malam itu…
‘NB Club’ disinilah Jieun dan Jiyeon berada. Salah satu club malam di kota Seoul. Bukan hanya terkenal berkelas, club ini juga terkenal karna sering dikunjungi oleh beberapa member dari BB dan GB terkenal Korea Selatan. Selain itu, kabarnay club ini juga didirikan oleh YG Family.
“Mana orang yang kau bilang sudah punya janji denganmu?” tanya Jieun tidak sabar. Jiyeon yang diberi pertanyaan langsung menoleh, mengamati seluruh isi club.
“Itu dia! Disana!” Jiyeon langsung menarik tangan Jieun untuk mengikutinya.
JLEB! PRANK! Karna kaget, Jieun menabrak seorang pelayan yang baru saja melintas didepannya. Gelas-gelas soju yang dibawa oleh pelayan itu langsung berserakan dilantai.
“Jieun-ssi, igeo mwoya?” tanya Jiyeon bingung. Yang ditanyai terlihat linglung, Ia sendiri bingung dengan apa yang telah Ia lakukan. Yang jelas Ia baru saja melihat seseorang yang harusnya tidak Ia lihat, yang sekarang sedang memperhatikannya dengan intens.
“Jiyeon-ssi, ije gayahae!” kata Jieun sambil menarik tangan Jiyeon dan seperti anak kecil memintanya agar pergi dari sini.
“Tapi, kenapa?” tanya Jiyeon balik.
“Lebih baik, kita pergi sekarang Jiyeon-ssi, jebal..” Jiyeon tidak bisa membiarkan Jieun seperti ini. baru sekarang Jiyeon merasa aneh dengan temannya itu.
Sepanjang perjalanan pulang Jieun hanya bisa diam dan kembali mengingat siapa yang Ia lihat di club tadi. Seorang Cho Kyuhyun!! CHO KYUHYUN !!!! Pikiran Jieun dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan seperti, “kalau Kyuhyun memang ada disana, berarti…” Jieun berhenti melangkah, dibiarkannya Jiyeon berjalan duluan.
“Jiyeon-ssi!” panggil Jieun tiba-tiba. Jiyeon yang berjalan dua langkah didepan langsung berhenti dan menoleh.
“Ada apa?” tanya Jiyeon, sepertinya Ia agak kecewa dengan sikap Jieun di club tadi.
“Apa… Apa kau mengenal Cho Kyuhyun?” setelah mendengar pertanyaan Jieun, Jiyeon lantas mendekat kearahnya.
“Kyuhyun? Ia temanku. Oh, tidak! Kurasa lebih dari sekedar teman,” kata-kata Jiyeon diakhirinya dengan sebuah senyum simpul yang Jieun sendiri paham betul apa maksudnya.
Merekapun kembali berjalan beriringan menyebrang jalan dan menyusuri kota Seoul.
Satu minggu kemudian…
“Jieun-ssi! Jieun-ssi!” terdengar suara keributan dari luar. Jieun yang baru saja menyelesaikan makan malamnya segera bangkit. Ia tahu persis suara siapa yang didengarnya kali ini. buru-buru Jieun membukakan pintu untuk orang itu.
“Seung Won ajusshi?!” tanya Jieun kaget saat melihat pamannya sudah berdiri didepan pintu dengan wajah yang sulit untuk ditebak.
“Jieun-ssi, mianhae. Mianhamnida…” pinta Paman Hyun Bin berlutut dikaki Jieun. Jieun tambah kaget dengan aksi Paman Hyun Bin.
“Seung Won ajusshi, igeo mwoya?” katanya sambil duduk dan menghentikan aksi Paman yang terus memohon.
“Seo Jihyun, Ia hilang!”
“MWO?!!” Jieun tambah kaget. Seo Jihyun, [mantan] sahabatnya, diculik?!
“Bagaimana bisa paman? eotteohge doen geoyeyo?”
****
Jieun datang dan membawa sebuah nampan dengan dua gelas teh hangat didalamnya. Teh itu baru saja Ia buat dengan air baru mendidih. Jieun pun meletakkan dua gelas the diatas meja tamu.
“Biar aku yang susul Jihyun, ajusshi. Jika kau yang selamatkan, aku tidak yakin kau akan selamat,” kata Jieun sambil mencoba duduk disofa tamu. Ia menyenderkan kepalanya yang terasa sangat berat.
“Jika kau yang pergi, itu akan lebih berbahaya. Bukan hanya nyawa, tapi juga kebebasanmu,” Tuan Cho mengambil teh hangat tersebut dan menyeruputnya. Setelah menikmati the buatan Jieun, Ia kemudian mengambil napas panjang.
“Jika ada orang yang tahu tentang kasusmu, maka bukan hanya kau yang bahaya, Paman juga. Mereka bisa saja menghukum atau melepas jabatan paman karna telah membebaskan seorang narapidana,” jelas Tuan Cho. Jieun mendadak bangkit dan berpikir sejenak. Ada benarnya juga kata Tuan Cho. Kalau saja hanya Jieun yang dihukum, tidak masalah. Tapi jika Tuan Cho? Rasanya sangat tidak adil. Jieun sudah terlalu banyak merepotkan beliau, Jieun sudah menganggap Seung Won ajusshi sebagai paman kandungnya sendiri. Jieun menatap Paman Seung Won sebentar kemudian menghela napas.
<Flashback>
Naeun membuka matanya, suasana khas kamar rumah sakit sangat terasa saat ini. Baunya, teknik pencahayaan, dan para suster serta dokter yang merawat Naeun, tidak ketinggalan juga Tuan Cho yang sudah menemaninya selama proses operasi berlangsung.
“Selamat! Operasi anda sukses dan anda sudah bisa pulang lusa.” Ucap sang dokter bedah memberikan selamat pada Naeun.
“Ne, gomawo, uisanim.” Naeun tersenyum. Sang dokter balas tersenyum kemudian meninggalkan kamar Naeun diiringi oleh para suster.
Tuan Cho bergerak mendekat ke arah Naeun dan bicara serius didekatnya.
“Kumohon Naeun-ssi. Selain Tuhan, hanya aku, kau dan dokter Siwon yang tahu akan hal ini. Aku yakin, dua atau tiga minggu lagi, kau akan menjadi buronan oleh kepolisian. Jika hal ini terbongkar jabatanku di kepolisian juga akan hilang, bahkan reputasiku hancur. Dan mulai sekarang, kau bukan lagi Han Naeun, tapi Han Jieun. dangsin-eun ihae habnikka?”
<flashback end>
***********
Tuan Cho baru saja pulang. Jieun pun duduk disofanya. Menengadahkan kepala kemudian menghela napas panjang. Bagaimana bisa Ia hanya diam sedangkan sahabatnya dalam bahaya?! Well, yeah, Jihyun memang sudah merebut Kyuhyun dari Jieun tapi… apakah Jieun sekejam itu?
“Argh!!!!!!!” Jieun berteriak lantas melempar handphone yang ada ditangannya. Langsung saja Ia mengambil jaket kulitnya yang digantung dibelakang pintu dan keluar rumah. Tujuannya saat ini adalah stasiun kereta KTX terdekat dikota Daegu.
Ditumpanginya sebuah KTX tujuan Seoul dan dalam –kurang lebih- 1 jam saja, Jieun sudah tiba di Ibukota Korea Selatan itu. Tujuannya adalah sebuah club malam yang pernah Ia datangi bersama Jiyeon, “NB Club”.
Setibanya disana, Ia segera mengedarkan pandangannya. Dilihatnya satu-satu dari banyak tamu yang datang. Lalu matanya menangkap seorang laki-laki yang sedang duduk sendiri dekat meja bar. Jieun pun menghampiri laki-laki itu dan duduk disebelahnya. Nampaknya laki-laki itu sedang mabuk berat, entah kenapa.
“modeun jag-eob-i yuyong jeog han il-eul huhoehaji anh-ayo (semua tindakan ada manfaatnya, jangan pernah sesali apa yang telah kau lakukan),” ucap Jieun membuat lelaki itu lantas menoleh dan menatapnya bingung. Jieun balik menatap laki-laki itu. Kali ini, kursi barnya, Ia hadapkan kearah lelaki itu.
“Cho Kyuhyun…” panggil Jieun, membuat laki-laki itu ragu-ragu akan siapa yang sedang berada disampingnya sekarang.
Setelah Kyuhyun benar-benar memperhatikannya, Jieun menepuk dadanya dua kali dan mengibaskan tangannya kedepan. Persis seperti yang sering dilakukan Kyuhyun, hanya saja… bagaimana orang lain selain Naeun bisa tahu gerakan itu kalau orang itu… BUKAN NAEUN?!
Jieun (Naeun) segera bangkit dari tempatnya dan pergi meninggalkan club.
***
Jieun/Naeun’s POV
Jang Dong Woon. Siapa lagi kalau bukan dia. Orang yang sangat dendam dengan Seung Won ajusshi. Seorang mafia yang sudah menginginkan kehancuran Seung Won ajusshi sejak lama. Oleh karna rencananya itu, Ia mengincarku. Ia mengincarku sebagai barang bukti bahwa Seung Won ajusshi sudah berhianat pada pihak kepolisian.
Kalau Jang Dong Woon menginginkanku, tidak seharusnya Jihyun dilibatkan. Tidak seharusnya Jihyun dibawa pergi. Hahah Aku tahu persis dimana markas Dong Woon dan kemana Jihyun akan dibawa. Shit! Aku sangat membencimu Tuan Jang!
Akhirnya aku tiba disebuah gudang tua besar, tempat Dong Woon dan anak buahnya bekerja. Tanpa ragu-ragu, akupun masuk kedalam gudang itu dan –entah disengaja atau apa- Jihyun ada disana. Duduk dikursi sedang tangan dan kakinya terikat.
“Jihyun-ssi!!” pekikku untuk berlari menghampirinya. Melepas tali yang mengikat tubuhnya dengan kursi itu.
“Gwenchanayo?” tanyaku memastikan. Jihyun mengangguk pelan. Keadaannya sudah sangat lemah. Sungguh, aku sangat merindukan Jihyun. Bagaimana tidak? Hampir lima belas tahun kami berteman, sampai aku sadar bahwa Ia lah penyebab dari renggangnya hubunganku dan Kyuhyun.
“Ppali!!” kataku menuntunnya untuk keluar dari gedung itu. Aku kira, hanya begini caranya aku melepaskan Jihyun, ternyata tidak. Jang Dong Woon keluar dari sebuah pintu sambil membawa seorang yeoja yang tidak asing lagi bagiku, Kim Jiyeon.
“Jiyeon-ssi?” aku bingung. Bagaimana bisa Jiyeon dilibatkan dalam hal ini?! bukankah Jihyun itu sudah lebih dari cukup.
“sshhhh….aahhhhh….” nafas Jiyeon terdengar tidak stabil. Ada beberapa luka diwajahnya, bahkan ada beberapa yang berdarah. Rambutnya pun sudah tidak karuan bentuk. Tunggu, jangan bilang bahwa Dong Woon telah menyiksa Jiyeon.
“Bagaimana bisa?” tanyaku heran.
“Tadinya Ia suruhanku. Tapi Ia bodoh! Ia tidak pernah tahu bahwa kau adalah gadis yang selama ini aku incar! Haha” jawab Dong Woon sambil tersenyum puas. Cih! Manusia keparat!
“Lepaskan Jiyeon sekarang!” seruku. Tawa Dong Woon semakin meledak.
“Kau mau selamatkan siapa? Tidak pernahkah ibumu mengajarkanmu untuk konsisten?! Kalau kau mau Jiyeon selamat, lepaskan yeoja itu, huh! Tapi jika, sebaliknya… biarkan Jiyeon mati ditanganku,” Brengsek! Ia mengarahkan pistolnya tepat dikepala Jiyeon.
“Lihat! Yeoja itu?! Apa kau akan menyelamatkan orang yang sudah merebut laki-laki yang kau cintai?!”
#now playing : T-ara – Cry Cry
Aku langsung melihat Jihyun. Matanya menyipit, kelapanya menggeleng, seperti mengisyaratkan agar Ia aku tolong. Tapi Dong Woon nada benarnya juga. Jihyun sudah merebut Kyuhyun, laki-laki yang aku sukai sejak kecil. Lalu kenapa harus kuselamatkan Ia?
“Andwaeyo, jebal…” katanya memohon. Aku tidak peduli. Aku merapatkan rangkulanku dan membawanya mendekat kea rah Dong Woon. Satu langkah, dua langkah, lalu semakin dekat.
“Lepaskan mereka berdua… dan tahan aku sebagai gantinya,” ucapku pasrah lantas menyerahkan diriku pada Dong Woon. Kau pikir aku gila?! Jihyun dan Jiyeon masih layak untuk hidup. Sedangkan aku? Kyuhyun saja tidak bisa menerimaku.
“Hhh~ yeoja pintar..”
Jiyeon’s POV
“Pergilah, Jiyeon-ssi, kumohon…” kata Jieun memelas. Sebenarnya aku tidak tega. Tapi aku akan mempersulit masalah kalau tetap disini. Maka akupun langsung menarik yeoja bernama Jihyun itu untuk lari. Setelah aku tiba didekat sebuah dinding besar, aku langsung bersembunyi dibaliknya. Kuraih telpon genggamku dan mencari sebuah nomor telepon yang sempat diberikan Dong Woon padaku.
“Yoboseyo… yoboseyo…” sapaku pada orang yang megangkat telpon diseberang sana.
“Ne?” sahut laki-laki itu.
“Tuan Cho, cepatlah kau kemari. Han Jieun.. maksudku.. Han Naeun, Ia benar-benar dalam bahaya!”
***
Author’s POV
Cho Seung Won tiba di gudang itu dan segera turun dari mobil. Disana sudah ada Jihyun dan Jiyeon yang langsung menghampirinya dan menyuruhnya untuk menghampiri Jieun.
(note: bayangin aja, adegannya Cha Seung Won waktu bertarung (?) sama musuhnya di Lovey Dovey)
“Naeun-ssi!!!” ucapnya saat mendapati Naeun sudah terikat bersama sebuah kursi didalam gudang itu. Jiyeon dan Jihyun membantu untuk melepaskan tali yang mengikat tubuh Naeun.
“Ya! Jang Dong Woon!! Dimana kau, keparat?!” teriak Tuan Cho dan.. DOR!!! (suara apa itu?)
Sebuah peluru yang dilepaskan Dong Woon berhasil menembus tubuh Tuan Cho.
“AJUSSHI!!!!” Teriak Naeun tidak kalah nyaring. Ia sangat ingin menyusul Tuan Cho tapi ditahan oleh Jiyeon dan Jihyun.
DOR!! Dengan satu kali tembak, Dong Woon dan Tuan Cho sama-sama terjatuh. Kali ini, Naeun benar-benar tidak bisa tinggal diam. Ia langsung berlari kearah Tuan Cho dan berlutut untuk melihat keadaannya.
“hikss.. ajusshi…” Air mata Naeun berhambur, Ia sangat sedih. Rasanya tidak mungkin Ia harus kehilangan Tuan Cho setelah kehilangan kedua orang tuanya.
“Han Naeun!!!” sebuah suara mengejutkan semuanya. Dia… CHO KYUHYUN! Kyuhyun melempar kunci mobilnya kearah Naeun, menyuruhnya untuk membawa Tuan Cho ke rumah sakit.
<skip>
“Ajusshi, kumohon bertahanlahh..” Pinta Naeun sambil terisak. Diinjaknya pedal gas mobil kyuhyun dan melaju ke sebuah rumah sakit dekat gudang itu.
Air mata yang mengalir dipipinya sudah bercampur dengan darah. “Aigo~” umpatnya kecil, sambil memukul-mukul stir.
“Han Naeun…” panggil Tuan Cho dengan suara yang sangat kecil.
“ajusshi? Bersabarlah kita hampir sampai.”
“Han Naeun, kau harus tahu bahwa aku sudah menganggapmu sebagai anakku sendiri. Sejak 18 tahun yang lalu. Saat kau berumur tiga tahun. Saat ayah dan ibumu menitipkanmu padaku. aku menyayangimu layaknya aku menyayangi Kyuhyun. Tapi, maaf… karna sepertinya Paman akan pergi lebih cepat. Maaf karna telah membuatmu kehilangan orang tua untuk kedua kalinya.”
“Ajusshi, kumohon jangan bicara seperti itu... hiks”
“Uljima, Naeun-ssi,” pinta Tuan Cho dan dalam hitungan detik Ia melepaskan nafas panjang.
“Ajusshi! Seung Won ajusshi, ireonaseyo!! Ireonaseyo ajusshi!! Ajusshi!!!!!!” Naeun berteriak, mencoba membangunkan Tuan Cho yang ‘tertidur’ dipundaknya.
<flashback>
“Jihyun-ssi, bagaimana kalau kau pergi kepesta bersamaku?” tanya Kyuhyun mengajak Jihyun ke pesta seorang teman.
“Baiklah…” dan merekapun meninggalkan Naeun ditempat itu. Ya, Naeun kecil memang sudah beranjak dewasa dan mulai mengenal cinta. Tapi bagaimana saat Kyuhyun –cinta pertamanya- pergi bersama yeoja lain?
“Hiks.. hiks..” Naeun’s began to cry. Lalu Tuan Cho datang dan duduk disampingnya.
“Naeun-ssi…” panggil Tuan Cho yang sangat mengerti akan perasaan Naeun terhadap anaknya.
“Ajusshi?” Naeun langsung memeluk Tuan Cho. Baginya, Tuan Cho adalah Paman, Ibu, Ayah, bahkan sahabat yang paling dapat Ia andalkan. Tuan Cho akan berada disampingnya saat Ia membutuhkan belaian orang tua.
“Uljima, Naeun-ssi..” pinta Tuan Cho. “Paman akan membelikanmu es krim nanti.” Bujuk Tuan Cho agar Naeun berhenti menangis.
“Aku sudah besar, ajusshi. Aku bukan anak kecil yang minta dibelikan es krim saat menangis.” Jawab Naeun terisak.
<flashback end>
“hiks.. hiks.. hiks…” Naeun tidak dapat menunda tangisnya saat mengenang semua kenangannya bersama Tuan Cho.
“ajusshi, naneun aiseukeulim-eul sago sip-eundeyo (aku ingin membeli es krim, paman).. hiks…” Jieun menarik gigi mobil dan semakin keras menginjak pedal gas. Diarahkannya mobil itu ke sebuah pantai dan tanpa berusaha untuk menginjak rem, Ia membiarkan mobil yang Ia tumpangi berjalan diantara rumput-rumput liar lalu terjun bebas di antara aliran Sungai Han.
“Ajusshi, I cannot do anything without you. Please don’t leave me away. We are a good partners, aren’t we? I’m so happy to have you with me.”
The End
Tidak ada komentar:
Posting Komentar